PONOROGO – Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sukses menyelenggarakan National Guest Lecture pada Selasa (2/6/2026). Bertempat di Gedung PSB, acara yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB ini mengusung tema hangat yang relevan dengan perkembangan zaman, yaitu “Dialog Model Baru dengan Al-Qur’an: Tren Gen-Z Berinteraksi dengan Kitab Suci”. Kegiatan akademik ini menghadirkan pakar ilmu tafsir terkemuka nasional, Prof. Dr.Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, M.A., yang juga merupakan penulis buku magnum opus berjudul Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar: Akar Sejarah Metode Sastra dalam Tradisi Islam.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan secara khidmat oleh Izza, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) semester 2. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag. Dalam sambutannya, Rektor mengapresiasi pelaksanaan kuliah tamu ini sebagai pemantik nalar kritis mahasiswa dalam merespons perkembangan zaman. Setelah pembukaan, acara ditutup dengan pembacaan doa keberkahan yang dipimpin langsung oleh Wakil Dekan 3 FUAD, Dr. Iswahyudi, M.Ag., sebelum memasuki sesi utama.

Memasuki sesi inti yang dimoderatori oleh Umar Faruq Thohir, M.S.I. selaku Ketua Prodi IAT, Prof. Nur Kholis Setiawan langsung membakar semangat para audiens yang didominasi oleh mahasiswa strata satu (S1). Ia mendorong generasi muda agar sadar dan semangat untuk berkembang dengan memaksimalkan fasilitas serta teknologi modern yang ada saat ini. Dalam motivasinya, beliau berpesan agar mahasiswa tidak membatasi niat belajar mereka dan mau membuka diri untuk mempelajari keilmuan di dunia global. Salah satu kunci utama yang ia tekankan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan menguasai bahasa asing.

Prof. Nur Kholis kemudian membagikan kisah inspiratifnya yang berhasil menempuh studi di berbagai kampus ternama dunia, mulai dari Timur Tengah hingga Eropa, berkat kemampuan menguasai empat bahasa. Kecintaannya yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan juga membawanya mampu melahirkan berbagai karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Arab. Pengalaman tersebut ia bagikan untuk memantik kesadaran mahasiswa akan pentingnya memperluas kapasitas intelektual secara menyeluruh.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga kedalaman keilmuan turats atau kitab klasik Islam. Menurutnya, khazanah Islam memiliki kekayaan materi yang sangat menarik untuk dieksplorasi, seperti yang terkandung dalam Alfiah Ibnu Malik, Fath al-Bari, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi, hingga Lubbul Ushul. Kekayaan materi turats tersebut akan menjadi semakin sempurna jika dipadukan dengan penguatan nalar kritis melalui studi interdisipliner. Langkah ini sejalan dengan adanya pergeseran paradigma (shifting paradigm) dan peralihan kekuatan keilmuan (the shifting of power) dari Barat ke Timur, yang berupaya menunjukkan bahwa Islam tidaklah bersifat dikotomis.

Upaya memadukan keilmuan lintas disiplin ini salah satunya diwujudkan melalui transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi UIN. Transformasi Universitas Islam Negeri kini menjadi barometer keilmuan Islam yang integratif. Proses ini ditandai dengan munculnya berbagai paradigma akademik baru, seperti konsep pohon ilmu hingga paradigma integratif-interkonektif, yang menjiwai nilai-nilai keislaman yang sedang bertransformasi di tengah modernitas.
Di tengah arus transformasi tersebut, Generasi Z hadir sebagai pelaku yang tidak hanya membaca literatur turats, melainkan juga aktif membaca konteks zaman. Hal ini membuat pembacaan mereka terhadap kajian Al-Qur’an berkembang pesat, hingga melahirkan dialog bertema modern mulai dari isu Artificial Intelligence (AI) hingga tren media sosial. Karakteristik unik Gen-Z ini ditandai dengan keberanian, rasa penasaran yang tinggi, serta visi yang luas tanpa kaku terbatasi oleh teori. Meskipun mereka memiliki keterbatasan dalam akses literatur klasik, kelonggaran berpikir ini justru membuka peluang munculnya variasi judul kajian yang kaya. Karakter berani inilah yang mendorong Prof. Nur Kholis bersama para mahasiswanya mengompilasi 14 karya tulis hingga menjadi buku baru dengan judul yang sama dengan tema seminar ini.

Antusiasme peserta semakin terlihat saat memasuki sesi diskusi interaktif. Salah satu pertanyaan kritis datang dari Arselna Ahda Afthonurrizal, mahasiswa IAT semester 4, yang menyoroti tren generasi sekarang yang gemar membagikan informasi keagamaan di media sosial demi pemenuhan personal branding. Menanggapi fenomena tersebut, Prof. Nur Kholis menjelaskan bahwa hal itu tidak lepas dari sifat generasi masa kini yang mudah mengalami FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan tren.
Namun, ia memandang fenomena banyaknya variasi penafsiran di media sosial tersebut sebagai hal yang positif selama bertujuan untuk ber-istifadah atau mengambil manfaat kebaikan. Di akhir penjelasannya, Prof. Nur Kholis mempersilakan dan mendukung penuh Generasi Z untuk tidak khawatir berdialog dengan Al-Qur’an menggunakan cara mereka sendiri yang kreatif dan relevan dengan zaman.