Madiun — Tim Fuad Cyber Center (FUCER) bersama mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Ponorogo antusias menghadiri kegiatan Film Screening dan Workshop “Lobang Buaya”. Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Film Madiun ini dihelat pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan mengambil dua lokasi berbeda, yakni Bioskop XXI Suncity Madiun dan Angkringan Kopi Kakak. Delegasi FUAD UIN Ponorogo ini didampingi langsung oleh dosen KPI, yakni Shella Syakhfiani FR, M.Sos. bersama Fajar Istikhomah, M.Sos.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran film “Lobang Buaya” karya sutradara ternama Hanung Bramantyo di Bioskop XXI Suncity Madiun mulai pukul 12.15 WIB hingga selesai. Usai pemutaran film, suasana bioskop semakin meriah dengan hadirnya sang sutradara Hanung Bramantyo bersama salah satu pemeran utama film tersebut, Carissa Perusset, yang langsung menyapa penonton dan memberikan pemaparan mendalam mengenai proses kreatif pembuatan film.

Acara kemudian berlanjut ke sesi workshop yang bertempat di Kopi Kakak. Kegiatan ini dihadiri oleh kalangan akademisi, mahasiswa, pecinta film, serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap dunia perfilman. Penyampaian materi oleh Hanung Bramantyo serta sesi diskusi yang interaktif membuat jalannya acara berlangsung dinamis.Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, berbagai elemen masyarakat, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, dosen, serta perwakilan komunitas perfilman di Madiun dan sekitarnya tampak antusias turut hadir serta aktif mengajukan berbagai pertanyaan menarik kepada sang sutradara.

Suasana diskusi semakin semarak ketika delegasi dari FUAD UIN Ponorogo turut serta melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis dan berbobot. Pertanyaan pertama dari unsur sivitas akademika FUAD diajukan oleh dosen pendamping, Shella Syakhfiani, yang menanyakan, Apakah film Lubang Buaya sebenarnya ingin mengajak penonton melihat bahwa sejarah kelam bukan sekadar cerita masa lalu, namun juga cermin untuk membaca kondisi Indonesia saat ini?
Antusiasme juga ditunjukkan oleh dua mahasiswa KPI FUAD UIN Ponorogo, Adya dan Dani. Keduanya turut bertanya seputar regulasi dalam Undang-Undang Perfilman serta melontarkan pertanyaan menantang kepada sang sutradara, “Apakah Mas Hanung tidak takut dengan risiko yang dihadapi setelah membuat film ini? Atau apakah tidak takut jika dianggap mengaburkan sejarah?”


Sesi diskusi interaktif ini berjalan dengan sangat baik dan cair. Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa film yang digarapnya berpijak pada pandangan historis sekaligus realita sosial yang ada saat ini. Ia juga menekankan kepada para generasi muda agar tidak melupakan sejarah. Hanung berpesan agar anak muda memperbanyak literasi serta menonton video edukasi dan informasi terkait sejarah, khususnya peristiwa 30 September 1965 serta peristiwa sejarah September 1948 yang salah satunya terjadi di Madiun.