Prodi SPI Dorong Pelestarian Budaya Lokal melalui Karnaval Haul Nyai Ageng Basyariah di Pulosari

Ponorogo — Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali menggelar Festival Budaya dalam rangka Pengabdian Budaya di Masyarakat pada Minggu, 30 Agustus 2026. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Desa Pulosari, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, dalam bentuk karnaval atau kirab budaya. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati haul Nyai Ageng Basyariah, istri dari Kyai Bagus Harusn atau Kyai Ageng Basyariyah Sewulan, Kabupaten Madiun dan putranya yang Bernama Kyai Wongsoriyah. Karnaval diikuti oleh berbagai elemen masyarakat Desa Pulosari, mulai dari takmir masjid dan mushala, jamaah Yasin, sekolah, Madrasah Diniyah, TPQ, pondok pesantren, komunitas pencak silat, hingga berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Kirab budaya menampilkan beragam atribut keislaman dan kebudayaan Jawa, yang memperlihatkan kuatnya perpaduan antara tradisi Islam dan budaya Jawa. Hal tersebut tidak terlepas dari keterkaitan sejarah Kyai Basyariyah Sewulan dengan Keraton Surakarta. “Budaya Solo dan atribut Islam-Jawa ala Solo sangat terasa pada karnaval kali ini,” jelas Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Ahmad Faruk Rekso Budoyo, M.Fil.I., yang merupakan utusan pengageng dari Keraton Surakarta sekaligus Ketua Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Rangkaian kirab dimulai dari Balai Desa Pulosari menuju Masjid Basyariyah. Sebelum arak-arakan diberangkatkan, KRT Ahmad Faruk terlebih dahulu menjelaskan makna dan filosofi berbagai simbol yang dibawa peserta, mulai dari payung, kembang, pakaian, hingga berbagai atribut lainnya yang memiliki makna filosofis dan historis yang menunjukkan keterkaitan budaya antara Pulosari dengan Keraton Surakarta.

K

Kegiatan berlangsung meriah sejak pagi hingga siang hari dengan antusiasme masyarakat yang tinggi. Bagi mahasiswa SPI, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran langsung mengenai bagaimana sejarah, tradisi, simbol budaya, dan kehidupan keagamaan masyarakat dapat dipelajari melalui praktik di lapangan. Secta Reihan, mahasiswa SPI angkatan 2025, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut yang menjadi pengalaman pertamanya dalam mengikuti Pengabdian Budaya di Masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan semacam ini diharapkan mampu memperkuat kemampuan mereka dalam membaca, mendokumentasikan, sekaligus memahami dinamika budaya lokal yang berkembang di tengah masyarakat.

Sebagai bentuk Pengabdian Budaya, kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Program Studi SPI dan Pemerintah Desa Pulosari. Pengabdian budaya yang melibatkan dosen dan mahasiswa SPI tersebut dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya mendekatkan mahasiswa dengan sumber-sumber sejarah dan kebudayaan lokal. “Bisa saja nanti Desa Pulosari menjadi desa binaan dalam pengabdian budaya, sehingga SPI dapat terlibat lebih jauh dalam konservasi dan pelestarian budaya di masyarakat,” pungkas Ahmad Faruk. Melalui kegiatan ini, Prodi SPI tidak hanya menempatkan budaya sebagai objek kajian akademik, tetapi juga berupaya hadir secara langsung dalam pelestarian, pengembangan, dan pewarisan budaya masyarakat kepada generasi berikutnya.

Berita Terkait