Kaji Warisan Islam Nusantara Mahasiswa SPI UIN Ponorogo Ikuti Pelatihan Transliterasi Naskah Giri Kedaton

PONOROGO – Perpustakaan UIN Ponorogo sukses menyelenggarakan kegiatan workshop filologi bertajuk “Membaca Jejak Masa Lalu Wacan Anbiya’ Giri Kedaton” pada Senin (29/06). Kegiatan yang berfokus pada Pelatihan Dasar Transliterasi (Ahli Aksara) dan Translasi (Ahli Bahasa) Naskah Kuno ini digelar di Kampus 1 UIN Ponorogo dengan menghadirkan pakar manuskrip sekaligus pengasuh media kebudayaan Langar.co Yogyakarta, Irfan Afifi, sebagai narasumber utama. Agenda akademik ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari civitas akademika, khususnya dari Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD). Mahasiswa dari program studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) terlihat sangat antusias dengan tercatat sekitar 26 mahasiswa SPI yang hadir dan menyimak pemaparan materi secara tekun dari awal hingga seluruh rangkaian acara selesai. Kehadiran mereka menjadi angin segar bagi keberlanjutan kajian filologi dan penyelamatan sejarah Islam di lingkungan kampus.

Acara dibuka secara resmi dengan sambutan dari Kepala Perpustakaan UIN Ponorogo, Dr. Hj. Kardi, S.Ag., S.S., M.Hum. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan bahwa perpustakaan di era modern bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian integral dari pusat informasi dan pelestarian ilmu pengetahuan. Senada dengan hal tersebut, Rektor UIN Ponorogo, Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag., dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk kembali menengok kekayaan literasi masa lalu. Menurut beliau, agenda ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat membaca, terutama dalam membedah kandungan nilai di balik naskah-naskah kuno nusantara yang sarat akan pengetahuan.

Dalam sesi penyampaian materi, Irfan Afifi memaparkan sebuah realitas menarik sekaligus otokritik bagi dunia akademik Islam saat ini. Ia menyayangkan bahwa kajian mendalam mengenai manuskrip naskah Islam justru lebih banyak didominasi oleh peneliti non-Muslim. Padahal, warisan tersebut pada hakikatnya merupakan milik generasi muda UIN. Irfan menyebutkan salah satu kendala utamanya adalah miskonsepsi di kalangan teman-teman pesantren yang keliru mengira bahwa aksara Hanacaraka bukanlah bagian dari naskah Islam, padahal aksara tersebut justru berkembang pesat dan digunakan secara luas pada zaman perkembangan Islam di Nusantara.

Lebih lanjut, budayawan dari Yogyakarta tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa UIN, terutama yang memiliki latar belakang pondok pesantren, sebenarnya sudah memiliki modal dasar keilmuan yang sangat kuat. Mereka hanya tinggal memperdalam penguasaan di bidang Sastra Jawa. Ia juga meluruskan kesalahan metodologis yang sering dilakukan oleh para peneliti pemula ketika mengkaji naskah Islam Jawa, di mana banyak dari mereka yang mencari arti kata menggunakan Kamus Jawa Kuno sehingga tidak membuahkan hasil. Hal ini dikarenakan bahasa Jawa Kuno berada pada masa Kerajaan Majapahit dengan produk sastra berupa Kakawin atau Parwa yang berkiblat ke India. Sementara itu, naskah kuno pada zaman Islam yang berbentuk Serat, Suluk, dan Babad memiliki karakteristik huruf yang sudah berbeda, sehingga kamus yang wajib digunakan adalah Baoesastra Djawa karya Poerwadarminta. Di sela-sela materi, Irfan juga membagikan catatan historis unik mengenai masa prasasti Asoka yang secara kronologis seolah menunggu selama lima abad demi kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai sang utusan.

Sesi diskusi kemudian berlangsung interaktif dengan munculnya berbagai pertanyaan kritis dari para mahasiswa. Menjawab keresahan peserta yang merasa pusing dan kesulitan karena tidak memiliki latar belakang pesantren, Irfan menenangkan bahwa hal tersebut sangat wajar dalam sebuah pelatihan tingkat dasar dan bidang ini dapat dipelajari oleh siapa saja yang memiliki ketekunan. Terkait dinamika sejarah Walisongo yang sering kali berbeda antara teks pelajaran di sekolah dengan temuan terbaru, Irfan menegaskan bahwa sejarah memang akan terus diperbarui seiring ditemukannya bukti-bukti baru. Dalam hal ini, orang pesantren memiliki keunggulan tersendiri karena mengetahui ilmu-ilmu sanad atau transmisi internal yang kadang tidak dijangkau oleh masyarakat awam.

Diskusi ini juga menyentuh aspek spiritualitas dalam dunia kepenulisan saat membahas hilangnya kesadaran dan laku hidup masyarakat modern terhadap warisan leluhur. Irfan memberikan refleksi mendalam bahwa orang zaman sekarang terkadang masih menjalankan tawasul tetapi kehilangan adab, seperti halnya mulai jarangnya dosen atau peneliti yang menganggap aktivitas menulis sebuah karya sebagai bentuk riyadhah atau latihan spiritual.

Setelah melewati jeda istirahat, shalat, dan makan (ishoma), para peserta langsung diajak masuk ke ranah praktis pada sesi terakhir. Sesi penutup ini diisi secara penuh dengan kegiatan praktik membaca langsung manuskrip naskah Wacan Anbiya’ Giri Kedaton. Dengan didampingi langsung oleh narasumber dari Langar.co tersebut, puluhan mahasiswa SPI mencoba mempraktikkan dasar-dasar transliterasi dan translasi yang telah dipelajari sebelumnya. Melalui pelatihan intensif ini, diharapkan lahir generasi baru alih aksara dan alih bahasa dari UIN Ponorogo yang mampu menyelamatkan, membaca, dan mengontekstualisasikan kembali pesan-pesan luhur dari manuskrip kuno demi kemajuan ilmu pengetahuan.

Berita Terkait