PONOROGO — Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Ponorogo menyambut kedatangan 10 mahasiswa internasional dalam acara penyambutan resmi yang digelar di Ruang Rapat Dosen FUAD Lantai 1, Kamis (10/9). Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme.Rangkaian acara dipandu menggunakan Bahasa Inggris oleh Master of Ceremony (MC), Ibu Shella Syakhfiani Fatmarahadi, M.Sos. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Dekan I FUAD, Dr. Faiq Ainurrofiq, M.A.; Galih Akbar Prabowo, S.Sos., M.A., selaku Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI); serta sejumlah dosen di lingkungan FUAD UIN Ponorogo.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Dekan FUAD, Bapak Prof. Dr. Muh. Tasrif, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau tidak hanya mengucapkan selamat datang, tetapi juga memperkenalkan profil Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah yang memiliki kekhasan ragam program studi, meliputi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), serta Sejarah Peradaban Islam (SPI).

Suasana pertemuan semakin semarak tatkala acara dilanjutkan dengan pemutaran film pendek berjudul “Nadyan” karya mahasiswa KPI Broadcasting Angkatan 2023 berdurasi sekitar 20 menit. Sesi pemutaran ini kemudian diperkaya dengan pemaparan Behind The Scene oleh Bapak Dony Rano Virdaus, M.I.Kom selaku dosen pengampu mata kuliah Sinematografi.
Kegiatan tidak berhenti sampai di situ. Sesi diskusi seusai pemutaran film mencuri perhatian tersendiri berkat tingginya antusiasme dan rasa penasaran para mahasiswa asing. Pertanyaan pertama datang dari mahasiswa asal Sudan yang bertanya, “Nadyan, nama orang atau bagaimana?”. Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh mahasiswa asal Afganistan. Ia merasa penasaran mengapa dalam film tersebut para aktris mengenakan hijab dan menggunakan bahasa Jawa. Sementara itu, mahasiswa asal Thailand mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana film Nadyan menggambarkan kehidupan mahasiswa serta apa amanat atau pesan yang dapat diambil dari film tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan terakhir kembali datang dari mahasiswa Thailand lainnya. Namun, kali ini ia tidak hanya bertanya, tetapi juga membagikan pengalaman pribadinya yang pernah terjadi di kampung halamannya. Ia menceritakan pengalaman yang memiliki kemiripan dengan kehidupan yang digambarkan dalam film Nadyan. Cerita tersebut sontak mengundang keheranan sekaligus membuka perspektif para pendengar bahwa persoalan serupa ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami oleh masyarakat di negara lain. Ia kemudian menambahkan bahwa untuk dapat belajar dan mewujudkan cita-cita berkuliah di luar negeri, dirinya harus berusaha mencari beasiswa. Kisah tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian sesi tanya jawab dalam kegiatan penyambutan.

Setelah ucapan hamdalah yang dipandu oleh MC, rangkaian acara penyambutan kemudian ditutup dengan salam dan sesi foto bersama. Suasana yang sebelumnya terasa cukup kaku perlahan mencair. Beragam gaya dalam sesi foto, termasuk pengambilan video sambil melambaikan tangan, membuat interaksi antara mahasiswa UIN Ponorogo dan para mahasiswa asing terasa semakin hangat.
Perbincangan dan perkenalan antarmahasiswa turut membangun kedekatan emosional yang semakin akrab. Sesi foto bersama tidak hanya berlangsung di ruang rapat, tetapi juga berlanjut di depan Gedung FUAD. Di lokasi tersebut, sejumlah mahasiswa asing lainnya bahkan turut berdatangan untuk sekadar menyapa dan berkenalan.

Momen hangat itu harus berakhir ketika pemandu mengingatkan rombongan untuk segera kembali memasuki bus dan melanjutkan agenda berikutnya. Ponsel yang sebelumnya digunakan untuk mengabadikan momen pun perlahan disimpan. Ucapan “see you next time” dan “bye-bye” menjadi penutup perkenalan hangat antara mahasiswa UIN Ponorogo dan para mahasiswa asing yang meninggalkan kesan akrab dan penuh kebersamaan. (Penulis: Twisca)