Intelektual yang Kesepian

 Oleh: Dr. Iswahyudi, M.Ag

                  Pemikir yang kesepian (the lonely thinker) pernah diungkapkan oleh pemikir eksistensialis Friedrich Nietzsche. Ia menggambarkan kondisi ini seperti Nabi fiktif yang digambarkan Nietzsche, Zarathustra. Zarathustra mengasingkan diri ke tempat tinggi, gunung untuk merenung agar menghasilkan kebijaksanaan. Namun sayangnya, ketika ia turun gunung, Zarathustra merasa terasing sendiri. Alih-alih menerima kebenaran yang dibawa, ia justru ditertawakan dan dianggap aneh, tidak masuk akal bahkan gila. Merasa sendiri, ia akhirnya naik ke gunung kembali. Nietzsche menganggap bahwa pikiran kritis akan mengalami kesepian karena kebanyakan orang lebih menyenangi kedangkalan.

                  Intelektual yang kesepian menurut Nietzsche menjadi mungkin karena kebanyakan orang terserang penyakit herd mentality yaitu mental “kawanan”, suatu mentalitas mengikuti kawan. Mudahnya, suatu mental yang hanya mengikuti arus utama, kebanyakan orang. Ia tidak mempertanyakan kenapa arus itu ada dan dipertahankan. Mental kawanan bisa berasal dari pemikiran keagamaan, budaya dan tradisi serta opini yang kadung diyakini. Para pemikir kritis akhirnya dianggap aneh. Pendapatnya sebenarnya sesuai konteks dan membangun. Namun, kebanyakan menganggapnya merusak kemapanan dan dianggap ancaman.

                  Apakah kesepian intelektual itu harus diratapi? Nietzsche menegaskan tidak harus diratapi apalagi putus asa. Ia menyarankan para intelektual untuk “mencintai takdir” yang disebutnya dengan konsep Amor Fati. Isolasi sosial justru membuat para intelektual matang dan jernih dalam melihat masalah. Itulah sebabnya, mengisolasi bukan menjauhkan intelektual dari masalah, tetapi justru ingin melihat masalah secara tepat. Isolasi adalah bagian dari the pathos of distance yaitu fungsi berjarak. Bukankah gambar utuh dalam suatu lukisan akan tampak keseluruhannya jika ia melihatnya tidak dari jarak dekat. Ia mundur beberapa langkah, membuat jarak, agar melihat objek dengan utuh.

                  Nietzsche akhirnya mengatakan bahwa kesendirian adalah implikasi yang tidak terhindarkan dari pikiran kritis, radikal dan bebas. Nietzsche membimbing para intelektual untuk tidak mengeluh ketika penolakan datang bahkan dari orang yang terdekat sekalipun. Ketiadaan teman dalam diskusi bukan halangan untuk berdiskusi dengan diri sendiri atau membaca pemikiran para tokoh yang menulis buku, walau penulisnya telah mati. Diskusi dengan orang yang menumpulkan kekritisan diri lebih baik dihindari.

Apakah Kesepian sebagai Pilihan?

                  Intelektual mungkin mendapatkan justifikasi tindakan dari gagasan Nietzsche. Ia merasa dapat dalil ilmiah untuk menjadi “sendiri” dan lebih nyaman dengan gagasan besar dirinya sendiri. Namun, apakah ini pilihan terbaik. Banyak jawaban untuk menjelaskannya. Pertama-tama tentu argumen keagamaan yang perlu dihadirkan sebagai makhluk yang beragama. Agama mengajarkan bahwa kebenaran yang terlalu borjuis dalam kata-kata atau kalimat tidaklah tepat sasaran. Kebenaran dan sikap kritis harus dimunculkan dalam bahasa dan logika yang mudah diterima. Al-Qurán menyebutnya dengan istilah qawlan. Para mahasiswa dari Komunikasi Islam sangat dekat dengan istilah qawlan ini. Yaitu seni berbicara agar komunikan dapat menerima isi pesan.

                  Kebenaran terkadang ditolak bukan karena hakikat dari kebenaran itu sendiri, tetapi karena cara penyampaiannya yang kurang tepat. Agama juga menyarankan kesabaran intelektual. Kesabaran bermakna tidak dalam arti menunggu, tetapi juga ketercapaian yang bertahap sebagaimana larangan meminum khamar yang bertingkat tiga tahap. Membuat konklusi bahwa kesendirian adalah pilihan terbaik dengan menyalahkan massa kebanyakan yang tidak siap adalah egoisme intelektual. Seseorang perlu mempertanyakan dirinya sendiri, metodologinya sendiri dan kritis terhadap dirinya sendiri.

                  Tradisi Marxian tentu menentang konsep ketersendirian ini. Lari di tempat sunyi adalah bentuk pelarian borjuis serta ketidakmampuan dalam menghadapi tantangan struktural. Murtin Buber bahkan menganggap manusia seutuhnya sebagai manusia yang mampu berdialog dengan orang lain, antara aku dan engkau. Manusia yang otentik adalah manusia yang mampu melihat orang lain bukan sebagai kawanan domba yang inferior sebagaimana gagasan Nietzsche. Hannah Arendt bahkan melihat public sphere (ruang publik) sebagai tempat tertinggi manusia dalam wujud aksi bersama.

                  Keramaian, oleh karena itu, tetap menjadi pilihan terbaik. Dalam keramaian, seorang intelektual berbaur dengan massa sebagai bagian dari kritik metodologis gagasan. Keramaian menghadirkan kesadaran manusia sebagai manusia yang berkompetisi. Sikap kritis sebenarnya adalah bagian dari kontestasi. Kontestasi antara kemapanan dan perubahan, kontestasi antara sekadar omon-omon dan bukti nyata dan kontestasi antara relasi dan prestasi. Kontestasi membutuhkan konsistensi. Kontestasi juga berhubungan dengan pengikut dari ide yang diperjuangkan.

                  Intelektual yang kesepian perlu menerima kritik dari keramaian agar juga berbenah. Intellectual Humility atau kerendahan intelektual adalah bagian dari strategi agar sikap kritis bisa diterima. Seorang pemikir, intelektual atau apa pun namanya, akan “diasingkan”, “sendiri” atau “merasa terasing” jika telah kehilangan intellectual humility ini. Terkadang, untuk menenangkan dirinya yang egois, ia mencari justifikasi ilmiah agar tindakannya dianggap benar.

Berita Terkait